Rabu, 22 September 2010

cerPen

SURPRISE…!!!

Suasana kelas makin gaduh saat jam kedua pelajaran Bahasa Indonesia akan berakhir. Pak Kahlil selaku guru sastra indonesia mengumumkan bahwa akan dilaksanakannya lomba cerpen nasional dan menghimbau semua siswa untuk giat melahirkan cerpen-cerpen original guna diikutsertakan dalam perlombaan yang cukup bergengsi di kalangan siswa siswi ini. Semua bersemangat penuh bak para pejuang yang berjuang di medan perang. Tak terkecuali Ima dan ketiga sahabatnya. Genderang persaingan prestasi telah dikumandangkan sampai ke sudut-sudut bahkan lubang tikus sekolah pun tak luput dari incaran gemuruh gelombang semangat.
”Baiklah anak-anak, saya berharap kalian berusaha sebaik mungkin untuk menjadi yang terbaik di antara teman-teman sebaya kalian yang lain. Saya ingatkan, jangan sekali-kali kalian mencoba mencuri karya orang lain untuk diikutsertakan atas nama kalian dalam ajang ini. Perbuatan itu sangat hina di mata dunia sastra kita!” Tegas Pak Kahlil merobohkan benteng kegaduhan mereka.
”Sekarang, mari kita lanjutkan pelajaran kita. Bacalah teks biografi Susi Susanti di buku paket kalian masing-masing!” Lanjutnya.
Naas nian nasib teks biografi tersebut. Sebelum semua siswa membuka penuh halaman tempat bersemayamnya, bel sekolah berbunyi nyaring menandakan tamatnya riwayat semua pelajaran hari itu. Ima segera membereskan buku-buku dan alat sekolahnya sampai tiba-tiba...
“Ima, nanti nonton futsal di SMA sebelah yuk.” Ajak Sari, sahabatnya.
“Boleh, tapi aku pulang dulu ya?”
“Siiip, nanti aku jemput ke rumahmu sekitar jam 15.00 WIB ya?”
“OK sobat.”
Ima segera pulang bersama April, kakaknya. Mereka menginjakkan kaki di teras rumah tepat sedetik sebelum mendung kelabu di langit menumpahkan air matanya ke bumi sebagai berkah bagi pak tani.
Waktu berlalu teratur detik demi detik. Hujan pun semakin deras mengguyur. Gludhug sahut-menyahut berlomba memamerkan gaungnya di angkasa raya. Ima duduk termangu di depan meja belajar mungil kesukannya di kamar. Mata tak mau dipejamkan. Otak juga tak mau diajak berfikir akibat melelahkannya pelajaran hari itu, efek samping ulah alam yang sedikit demi sedikit mengikis sifat tomboy dan tahan bantingnya.
Cuaca di luar semakin buruk. Angin makin gencar mengamuk, tapi untungnya tak sampai puting beliung. Rona kegelapan semakin mendominasi seluruh penjuru kota tempat tinggal Ima. Dinyalakannya lampu belajar. Diraihnya buku Katastrofi Mendunia tentang Marxisma-Leninisma-Stalinisma-Maoisma alias Komunisma dan Narkoba karangan Taufik Ismail yang tadi siang dipinjamnya di perpustakaan sekolah. Bergidik ngeri dirasakannya saat membaca daftar pembantaian yang pernah dilakukan Partai Palu Arit (di Indonesia dikenal dengan nama PKI alias Partai Komunis Indonesia) yang membantai bangsa-bangsa di 74 negara selama 76 tahun dan berhasil memusnahkan ±100.000.000 manusia. Sungguh angka yang fantastis. Tapi, tiba-tiba Ima teringat dengan rencananya bersama Sari untuk menonton pertandingan futsal. Ima segera memungut handphone, dipencetnya nomor telepon Sari...
Tuut... Tuut... Tuut... Klik. ”Halo, Assalamu’alaikum.” Suara di seberang terdengar.
“Wa’alaikumussalam. Sari, ini Ima. Ri, di sini hujan deres banget. Petirnya juga menakutkan. Terus terang, aku jadi males kalau harus keluar rumah. Jadi, dengan sangat terpaksa, aku mau bilang kalau aku nggak bisa nonton futsal bareng kamu dan teman-teman.”
”Iya, tidak apa-apa kok, di sini hujannya juga deres banget. Aku nggak dapat ijin keluar rumah dari papaku. Ngomong-ngomong, kamu sudah selesai membuat cerpen untuk lomba cerpen nasional?” Tanya Sari di telepon.
”Ini baru mulai, soalnya aku baru dapat idenya sekarang.”
”Ya sudah, selamat membuat cerpen. Semoga berhasil dan sukses.”

”Iya, terima kasih banyak atas do’anya.”
”Bye…” Klik. Suara pemutusan hubungan telepon Sari terdengar.
Senja berlalu. Gelapnya malam menguasai jagad raya. Rintik hujan menjadi ritme alamiah yang memanjakan kuping. Aroma tanah basah merilekskan hidung yang terlanjur tercemar polusi. Kodok berpesta pora saat malam larut sedikit mengganggu ketenangan jiwa manusia yang sedang bertualang di alam mimpi.
”Dek… Dek Ima, bangun dek, waktunya sahur.” Suara Kak April terdengar remang-remang di kuping Ima.
”Dek, ndang bangun dek, nanti ketinggalan lho.” Suara semakin jelas terdengar. Namun Ima tetap saja tak bergeming. Ima tersentak bangun saat percikan air menyentuh pori-pori kulitnya.
”Kak, air dari mana ini ? Atapnya bocor ya?” Tanya Ima dengan lugunya .
“Hehe... Itu mah air dari kamar mandi. Kamu sih, dibangunin dari tadi gak ndang bangun-bangun. Kepaksa deh pake acara gayung bocor segala. Sekalian kamu basuh wajah ben ndang bangun. Kamu kan kalau sudah tidur kayak kebo. Sekarang ndang wudhu, terus sholat tahajud. Setelah itu segera nyusul sahur di ruang makan!”
Kak April meninggalkan Ima yang masih bingung dan sedikit jengkel dengan kejadian itu. Tadi dia mimpi kehujanan, eh ternyata dihujani Kak April. Tapi, tak berapa lama, Ima segera melaksanakan perintah Kak April dan bergabung di ruang makan untuk makan sahur. Acara makan sahur itupun diwarnai dengan canda tawa sehingga Ima lahap sekali makan karena tidak terasa bahwa dia baru saja bangun tidur. Padahal, biasanya Ima lah yang paling sulit disuruh makan sahur. Bunyi kelontang piring terbentur sendok pun menambah keramaian yang diciptakan Ima saat makan sahur itu.
Akhirnya, suara imsak dari masjid di dekat rumah menandai berakhirnya waktu sahur. Ima dan keluarga pun acara sahur untuk puasa senin-kamis yang sudah biasa mereka lakukan dengan meminum segelas air putih dan berdo’a dipimpin papa supaya puasa mereka hari ini berjalan lancar dan mendapat berkah dari Tuhan.
”Nah, sekarang silahkan kalian mengambil air wudhlu untuk sholat subuh. Setelah itu, Ima dan Kak April melanjutkan belajar. Oh ya, katanya Ima mendapat tugas membuat cerpen yang juga merupakan seleksi untuk lomba cerpen nasional ya? Kalau begitu, Ima harus bekerja keras dan berusaha semaksimal mungkin untuk membuatnya, agar Ima bisa menjadi pemenang, tidak hanya di tingkat sekolah, tapi juga sampai tingkat nasional.” Jelas Papa Ima.
”Iya pa, Ima janji, Ima akan berusaha agar bisa membanggakan papa, keluarga dan sekolah.” Tukas Ima.
”SEMANGAT...!!! Hahaha...” Sorak mereka bersamaan.
* * *
Buku-buku pelajaran hari ini telah dimasukkan ke dalam tas. Semua tugas juga sudah selesai dikerjakan Ima. Sekarang, waktunya Ima melenggang pergi ke sekolah bersama ketiga sahabatnya. Ya, ketiga sahabat yang selama ini selalu bahu-membahu dengannya untuk meraih yang terbaik bersama-sama. Fifi yang pendiam tapi dewasa, Sari yang suka traveling dan jago karate, Lala yang putis tapi lola (alias loading lama, hehe) serta Ima yang cerewet tapi juga cerdik. Mereka memang mempunyai banyak perbedaan yang mencolok. Tapi semua itu tak lantas membuat mereka saling bermusuhan dan bersaing untuk menjatuhkan satu sama lain. Sebaliknya, mereka malah erat bersahabat dan memanfaatkan kelebihan yang dimiliki untuk menutupi kelemahan masing-masing. Begitu halnya dengan kali ini. Mereka saling membantu menyelesaikan tugas yang diberikan guru dan hasilnya, nilai merekalah yang tertinggi di kelas.
”Baiklah anak-anak, dua hari lagi kita akan berangkat liburan ke Bali. Jadi, ibu harap kalian menjaga kesehatan agar tidak sakit dan bisa menikmati liburan disana.” Jelas Bu Nurul selaku panitia sekaligus wali kelas mereka. Ima dan ketiga sahabatnya mendengarkan penjelasan dan arahan Bu Nurul dengan seksama sampai selesai, karena mereka pun termasuk peserta liburan ke Bali.
Waktu terasa berjalan begitu lambat, tapi akhirnya hari yang ditunggu Ima tiba. Hari keberangkatannya ke Bali. Ima sudah menyiapkan segudang rencana untuk liburan di sana. Dia berpamitan kepada keluarga dan menanyakan apa-apa saja oleh-oleh yang mereka inginkan untuk dibawakan Ima dari Bali. Bisa dibayangkan saat itu Ima senang bukan kepalang akan berangkat bersama sahabat dan teman-temannya.
Dengan ditemani papanya, Ima berangkat ke sekolah untuk berkumpul dan berangkat bersama sahabat dan teman-teman lainnya. Namun, betapa terkejutnya Ima saat sampai di sekolah. Semua temannya menunjukkan mimik kecewa dan sedih, bahkan ada beberapa guru pendamping yang menangis. Tanpa membuang-buang waktu, Ima menghampiri ketiga sahabatnya yang sudah terlebih dahulu sampai di sekolah untuk meminta penjelasan.
“Ada apa ini? Kenapa suasana jadi kayak gini? Bukankah seharusnya kita bersenang-senang?” Tanyanya.
”Iya, itu seharusnya. Tapi nyatanya sekarang sebaliknya kan? Kita baru saja mendapat kabar kalau di Bali sedang terjadi teror yang cukup meresahkan dan membahayakan. Bahkan, hotel dan beberapa tempat wisata yang akan kita kunjungi juga sudah luluh lantak di bom para teroris. Parahnya, salah satu guru kita, Pak Anshor yang sudah lebih dulu berangkat kesana menjadi salah satu korban tewas pengeboman di hotel itu.” Jelas Fifi.
Bingung, sedih, kecewa campur aduk menjad satu dirasakan Ima. Beragam rencana yang telah disusunnya serasa berputar-putar memenuhi kepalanya menunggu giliran untuk segera dilancarkan. Mimpi apa dia semalam, sampai-sampai rencana yang sudah dibuatnya dan tinggal menunggu waktu untuk dijalankan malah gatot (alias gagal total) karena ulah para teroris yang tidak bertanggung jawab dengan mengatasnamakan Agama Islam sebagai dasar perbuatan kejam mereka terhadap manusia lain. Padahal Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk berbuat kerusakan bahkan sampai menghilangkan nyawa orang lain. Bagi Ima, mereka tak ada bedanya dengan penganut partai palu arit yang diketahuinya lewat yang dipinjamnya dari perpustakaan sekolah.
Setelah diberi beberapa pengarahan dan permintaan maaf dari panitia penyelenggara, Ima dan teman-temannya pulang dengan perasaan kecewa yang dominan berkecamuk di hati masing-masing.
Sesampainya di rumah, tanpa mengucapkan salam yang sudah menjadi kebiasaannya terlebih dahulu, Ima langsung menuju ke kamarnya dan mengunci pintu rapat-rapat. Direbahkan tubuhnya di ranjang, menatap langit-langit kamar yang di plafon. Tergambar jelas disana kegiatan bersama sahabat dan teman-temannya saat berlibur di Bali. Sayangnya, itu semua hanya sebuah angan yang tak mungkin terwujud, paling tidak dalam waktu dekat ini. Tak terasa, butir-butir air mata mengalir membasahi pipi Ima.
* * *
Waktu terus berjalan. Ima mulai meneruskan kegiatannya membuat cerpen yang sempat terhenti karena perasaannya yang belum stabil pasca batalnya liburan ke Bali serta kematian Pak Anshor yang sangat mendadak. Tapi, berkat kejadian itu juga Ima mendapat ide baru untuk membuat cerpen. Bisa sampai berjam-jam dihabiskan Ima di kamar untuk membuat dan menyelesaikan cerpen barunya.
Akhirnya, hari penentuan pun tiba. Semua cerpen dikumpulkan untuk dinilai Pak Kahlil dan guru-guru sastra yang lain. Cerpen yang dinilai paling bagus akan dikirim untuk mengikuti lomba cerpen nasional mewakili sekolah Ima. Semua siswa deg-degan menunggu diumumkannya sang juara cerpen. Begitu pula halnya dengan Ima dan ketiga sahabatnya. Tak berapa lama berselang, sang pemenang pun diumumkan. Ima tak henti-hentinya berdo’a agar menjadi pemenang dalam seleksi ini. Kedua pemenang telah diumumkan dan kini tinggal juara pertama yang masih menjadi misteri. Dengan ditemani Bu Mawar, Pak Kahlil mendekati Ima dan menjabat tangannya seraya menucapkan selamat menandakan Ima menjadi juara pertama seleksi lomba cerpen di sekolahnya dan berhak maju bersaing di kancah nasional.
”Ima, cerpen kamu akan kami kirimkan ke Jakarta dan semoga kamu bisa menjuarainya.” Jelas Pak Kahlil.
”Terima kasih atas kepercayaan dan do’anya pak. Saya juga sangat mengharapkan keberuntungan itu berpihak kepada saya yang kurang berpengalaman dalam bidang ini.” Kata Ima merendah.
* * *
Hari senin, di bulan Juni. Ima berangkat sekolah dengan sedikit terburu-buru karena bangun kesiangan. Sesampainya di sekolah, sebagian besar siswa sudah mulai berkumpul di halaman sekolah untuk mengikuti upacara bendera sebagaimana mestinya. Ima pun segera beranjak bergabung dengan barisan temen-teman sekelasnya. Tapi, Ima merasakan ada sedikit keganjilan di barisannya kali ini. Dia menemukan sesosok pemuda yang mungkin baru kali ini dilihatnya di barisan itu. Tapi di sisi lain, Ima juga merasa bahwa dia pernah kenal dan bahkan dekat dengan pemuda itu. “Siapa dia?” Pikir Ima.
Upacara berjalan lancar dan semua siswa mengikuti jalannya upacara dengan khidmad. Kini, tiba saatnya Wakasek Kesiswaan memberikan beberapa pengumuman. Tak dinyana tak dikira, ternyata nama Ima terpanggil, tercatat sebagai siswi yang berhasil menjuarai lomba cerpen tingkat nasional. Ima terkejut sekaligus bingung mendengarnya. Namun, berkat dorongan dan suntikan kebahagiaan dari sahabat-sahabatnya, meskipun dengan sedikit rasa gugup Ima tampil di depan teman-temannya untuk menerima piala, hadiah dan ucapan selamat dari panitia penyelenggara lomba cerpen tingkat nasional yang sengaja mendatanginya langsung untuk memberi sedikit kejutan. Semua bersorak riuh membanggakan Ima yang berhasil mengharumkan nama sekolahnya.
“Nah anak-anak, Ima ini bisa menjadi teladan bagi kalian. Kalian harus berusaha semaksimal mungkin dan yang paling penting optimis untuk meraih yang sebuah prestasi yang membanggakan. Sekarang, silahkan kalian masuk ke kelas masing-masing. Jam pelajaran akan segera dimulai.” Kata Pak Sofyan selaku Wakasek Kesiswaan.
Canda tawa da ucapan selamat masih bergemuruh di kelas Ima hingga akhirnya Bu Nurul, wali kelas mereka memasuki kelas. Semua anak seketika diam dan duduk rapi menempati tempat duduk masing-masing. Namun, Bu Nurul tak sendirian. Ada seorang pemuda tampan disampingnya. Ya, pemuda yang tadi berada di barisan kelas Ima saat upacara bendera.
“Selamat pagi anak-anak.” Sapa Bu Nurul.
“Pagi bu.”
“Anak-anak, ada kabar gembira untuk kalian semua selain kemenangan Ima. Kalian akan mendapat teman baru. Dia adalah pindahan dari salah satu SMA ternama di Jogja. Dia pindah kesini karena mengikuti ayahnya yang dipindahtugaskan di kota ini.” Jelas Bu Nurul. “Gilang, sekarang silahkan memperkenalkan diri.” Lanjutnya berkata kepada pemuda itu.
“Baik bu. Terima kasih atas waktunya.” Kata pemuda itu. ”Teman-teman, perkenalkan nama saya Gilang Prasetya Wardhana. Dulu saya bersekolah di SMAN 3 Jogja, lalu pindah ke kota ini karena mengikuti ayah saya yang dipindahtugaskan. Saya memilih melanjutkan pendidikan saya di sekolah ini karena selain sekolah ini merupakan SMA favourite di kota ini, tapi juga karena disini saya mempunyai seorang sahabat lama yang sangat saya rindukan yang mungkin sudah melupakan saya karena kami sudah sangat lama tidak bertemu, bahkan sejak kami lulus dari TK.” Terangnya.
Ima termenung mendengar kata demi kata yang terucap dari mulut teman barunya itu. Gilang, sahabat, kata-kata itu terasa melekat dan akrab di kupingnya. Ima baru tersadar saat Gilang menghampiri dan memegang pundaknya seraya menyunggingkan senyum simpul khas di wajahnya yang sangat dikenali Ima. Ya, tak salah lagi. Dia adalah sahabat lama Ima yang selalu dirindukannya. Sahabat karib yang pernah menghiasi hari-hari indah masa kecilnya. Sahabat yang selalu bersamanya hingga waktu dan keadaan memisahkan mereka sekian lama. Tapi kini, waktu dan keadaan jualah yang mempertemukan mereka kembali. Sungguh kejutan yang membahagiakan bagi Ima. Di hari yang sama, dia dinobatkan menjadi pemenang lomba cerpen nasional sekaligus mendapat teman baru yang tak lain adalah sahabat karib masa kecilnya yang selalu dirindukan.
>> TAMAT <<

1 komentar:

sUaRa HaTi mengatakan...

HEH,NGAGGO JENENGKU MBAYAR............

Powered By Blogger
Diberdayakan oleh Blogger.
 
Puttrie's Blog © 2008 by para Você | Re-design Sweet Baby Girl